Senin, 18 Mei 2015

PUISI

MASIHKAH KUTEMUKAN
Oleh: Rayona Tampubolon

Masihkah kutemukan keteduhan di matamu
setelah musim gugur tiba tanpa diduga
serta bunga-bunga layu berjatuhan tepat di depan kita
seperti harapan yang kita damba untuk bersatu
nyatanya sia oleh karena ragu dan duka-luka masa lalu

masihkah kutemukan keteduhan di matamu
saat menatapku, setelah benih yang kita tabur
tak menuai bunga dan buah
seperti jalan yang kita tetapkan untuk dilalui
nyatanya sia tak sampai pada tuju

dan oleh karena ragu-tuju itu pula
aku terperangkap di dalam sunyi
yang kucipta sendiri

April 2015



DI RUANG TUNGGU
Oleh: Rayona Tampubolon

Kita saling bersitatap
kedua matamu bagai memburu
menghujamku

antara luka dan amarah
kugubah jadi senyuman
kutelusuri lekuk wajahmu
mengenang raut bagaimana dulu
waktu terakhir kita bertemu
tanganmu gemetar, tapi mulutmu membungkam
seperti menghadapi gelombang
jantungku tak terkendali

“Duhai, kesepian kah
yang membawamu kemari?”
gumamku dan buru-buru pergi

April 2015



SEBUAH SADIK
Oleh: Rayona Tampubolon

Setelah mengungkapkan rindumu di balik telepon;
kau sisakan gelisah-kebingungan.
tentu saja, aku tiada memberi ruang bagimu—
menyatakan cinta. Sebab aku tak lagi sendiri
namun, bagaimana jika kaukata tak peduli?
dapatkah kuputar waktu dan mengutuki pertemuan?

April 2015


SUMBER: ANALISA MINGGU, 17 MEI 2015

CERITA ANAK

KASUARI DAN DARA MAHKOTA

Oleh: Rayona Tampubolon

            Seperti biasa, Kasuari dan teman-temannya tengah mencari makan dengan mengandalkan sayap mereka. Namun, keberuntungan selalu berpihak kepada Kasuari karena memiliki sayap yang lebar. Ia bisa terbang dengan  cepat ke atas pohon-pohon dan dengan cepat mencari makan di atas tanah. Ia selalu menyembunyikan makanan di balik sayapnya.
            “Biarin,” pikirnya. “Salah mereka sendiri tidak memiliki sayap sepertiku. Mereka sangat kecil. Sayap mereka juga kecil. Siapa cepat, dia dapat.”
            Burung Pipit sangat kesal dan marah karena tidak menyukai kesombongan Kasuari. Burung Pipit memutuskan untuk mengadakan perlombaan terbang, namun tidak ada di antara mereka yang berani melawan kehebatan Kasuari.
            Dara Mahkota menghampiri burung Pipit, “saya berani bertanding dengan Kasuari.”
            “Apa?! Kamu mau melawan aku? Kamu hanyalah burung kecil dengan sayap yang sangat kecil! Sayapmu tidak ada apa-apanya!”

ESAI SASTRA

ANTARA TU BIANG DAN CALON ARANG

Oleh: Rayona Tampubolon



      Pada hakikatnya bahasa yang digunakan perempuan dan laki-laki, baik yang dituturkan secara lisan maupun tulisan berbeda. Perempuan lebih intuitif. Hal ini pulalah yang terlihat jelas dari bahasa yang digunakan oleh Pramoedya Ananta Toer ketika menceritakan Cerita Calon Arang dan bahasa yang digunakan  oleh Femmy Syahrani dan Yulyana ketika menceritakan Galau Putri Calon Arang.
Kedua novel ini pada dasarnya sama-sama menceritakan tentang Calon Arang—perempuan yang memiliki teluh luar biasa mematikan. Namun, jelas memiliki gaya berbeda menceritakan Calon Arang baik dari segi bahasa serta kedudukan Calon Arang di lingkungan masyarakat.
Galau Putri Calon Arang (Femmy Syahrani dan Yulyana)
Ratna Manggali adalah anak Tu Biang—Calon Arang yang sangat ditakuti seluruh warga. Tidak ada satu orang pun yang berani menantang Calon Arang, sekalipun bersalah. Maka semua warga memilih diam. Mengurung diri di rumah. Ketakutan itu jugalah yang menyebabkan Ratna Manggali tidak juga dilamar oleh lelaki. Padahal, Ni Dyah, sahabatnya, telah mempunyai dua orang anak. Ratna lebih banyak menghabiskan waktu bersandar di pohon tanjung dan memetiki bunganya. Rakajasa, lelaki yang tidak takut pada Tu Biang, berniat untuk menikahi Ratna dan menjadikannya isteri ketiga. Rakajasa memaksa meski Ratna menolak dengan sopan.
Beberapa hari kemudian, wabah muncul tanpa peringatan. Suatu penyakit yang mematikan. Itu semua adalah ulah Tu Biang. Hingga, kabar tersebut sampai ke kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Airlangga—anak kandungnya.

ESAI SASTRA

PERAN SARJANA SASTRA DAN SARJANA PENDIDIKAN BAHASA & SASTRA INDONESIA

Oleh: Rayona Tampubolon

            Saat ini yang menjadi kegelisahan kita (khususnya guru-guru bahasa dan sastra Indonesia) adalah berita yang dimuat di harian KOMPAS, dalam rubrik “Pendidikan dan Kebudayaan” pada edisi 21 Desember 2013 dan 16 Januari 2014, perihal  kedudukan Indonesia yang berada di urutan ke 64 dari 65 negara di dunia dalam hal membaca. Boleh dikatakan bahwa menurunnya pendidikan di Indonesia salah satunya disebabkan oleh kelemahan anak-anak pada usia 15 tahun dalam membaca dan memaknai teks yang dibaca.
            Di dalam bahasa Indonesia, terdapat empat aspek berbahasa yang saling berhubungan, yakni: keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Keterampilan menyimak dan membaca adalah kegiatan yang bersifat reseptif sedangkan keterampilan berbicara dan menulis adalah kegiatan yang bersifat produktif. Seseorang dikatakan telah mampu berbicara apabila sudah sering menyimak dan seseorang dikatakan mampu menulis apabila sudah menjadi pembaca yang baik.
            Seturut dengan pernyataan Taufiq Ismail yang mengatakan, sejarah peradapan manusia membuktikan bahwa bangsa yang hebat ternyata masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi. Pada masa penjajahan Belanda, siswa AMS-B (setingkat SMA) diwajibkan membaca 15 judul karya sastra per tahun, sedangkan siswa AMS-A membaca 25 karya sastra per tahun. Selain itu, wajib membuat satu karangan per minggu, 18 karangan per semester atau 36 karangan per tahun. Lalu, bagaimana dengan siswa sekarang ini?
            Sebagai negara berkembang, Indonesia agaknya “terikut-ikut” dengan negara maju. Hal ini dibuktikan dengan era digital sekarang ini yang menyebabkan para siswa lebih menyibukkan diri dengan gadget dibandingkan di perpustakaan. Padahal, negara maju memasuki era digital sesudah “lulus” dan gemar membaca.
            Seperti ungkapan Taufiq Ismail, siswa saat ini tidak diwajibkan membaca buku. Sementara siswa SMA di Amerika Serikat diwajibkan membaca 32 judul karya sastra dalam setahun, Jepang 15, Brunei 7, Singapura dan Malaysia 6 dan Thailand 5.
            ***
            Apakah yang menjadi peran sarjana sastra dan sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia?

PUISI

KASUR KEMATIAN
Oleh: Rayona Tampubolon

Di kasur ini, kau selalu bercerita;
tentang pahit-getir hidup yang kaujalani
pun di kasur ini, untuk kali pertama
tiada henti kau berkata-kata hingga malam hampir usai
begitu cepat waktu berlalu, menjadikanmu kenangan, Oppung.
segala upaya kami lakukan—
membangunkanmu dengan gondang
serta andung-andung yang kerab buatku meratap
tiada guna. Kau begitu menikmati kasur kematianmu.

Maret 2015



RAHASIA
Oleh: Rayona Tampubolon

Ada orang-orang yang bersikeras
mempertahankan kenangan
pahit menjadi indah bertahun-tahun
melalui perjalanan, perjuangan dan harapan

ada orang-orang yang bersikeras
membunuh kenangan
indah menjadi pahit, rindu menjadi tabu
melalui perjalanan, perjuangan dan harapan

padahal—
kenangan abadi. Meski kadang dikutuki
dalam hati sepasang kekasih
April 2015





SKETSA
Oleh: Rayona Tampubolon

Ketika semburat senja menghias langit;
tiada lagi dendam-amarah
keheningan merangkul seluruh tubuh

ketika semburat senja hampir usai;
kutemukan setangkai mawar dan sebingkai wajah
gadis kaurangkul

langkahku gontai
sempat ingin kukutuk senja
tapi ia buru-buru beranjak
menuju malam kelam
April 2015







SUMBER: ANALISA MINGGU, 26 APRIL 2015