Minggu, 04 September 2016

CERPEN

RENA DAN PEREMPUAN MISTERIUS
Oleh: Rayona Tampubolon




            Jalan masuk ke gang Bulan tampak lengang, padahal masih pukul tujuh malam. Rena yang baru pulang mengajar, terus melangkah—meski sesekali air matanya bercucuran. Ia teringat pesan terakhir dari kekasihnya—yang amat sangat menghunjamnya. Tak ada orang yang tahu atau seolah tahu bagaimana getir yang ia rasa, kecuali perempuan yang selalu duduk di bawah pohon, di dekat rumahnya.
            Sesampai di rumah kontrakan, Rena menekuni ritualnya, menulis. Ia mematikan lampu dan menyalakan lilin. Rena tak sadar apa yang ditulisinya, ia hanya mengikuti ke mana pena membawa imajinya. Tiba-tiba, pada kalimat terakhir, ia mendapati dirinya menuliskan tentang sosok perempuan misterius itu.
            Perempuan di bawah pohon itu selalu membuatnya penasaran. Setiap kali Rena pulang, perempuan itu menatapnya tajam—seolah marah padanya. Anehnya, tatapan itu selalu terjadi ketika Rena gamang—mengingat kekasihnya.
            “Rena, sudahlah. Hubungan ini tidak perlu lagi kita lanjut. Lagi pula orangtuamu tidak menerimaku dengan pekerjaanku sebagai pemusik.”
            Rena hanya menggigit bibir ketika membaca ulang pesan terakhir dari kekasihnya itu.
***

Minggu, 17 Juli 2016

PUISI

PULANG KAMPUNG
Oleh: Rayona Tampubolon
Dadaku berguncang
buru-buru kutenangkan dengan harap-doa
dalam perjalanan Medan menuju Toba
kalau kau akan menyapa
di harbangan huta, dekat rumah kita

aku tahu engkau cemaskan usia, Omak!
padahal belum lagi aku mencapai angka tiga
pekerjaan yang meraba
dapatkah kelak diterima calon mertua?

pulang kampung kali ini, tak seperti tahun silam
langkah begitu ringan, tak ada beban-cemas dalam pikiran

pulang kampung kali ini, demi telapak tanganmu
pungutlah boras si pir ni tondi, tabur di kepalaku
agar jauh segala sapata
usai kautanamkan doa umpama mantra

Siahaan Dolok, 24 Mei 2016



DI DALAM BUS
Oleh: Rayona Tampubolon
siapakah perduli di antara kamu
risau-cemas di tiap hati


meski mata bersitatap
apa guna bila tak saling berucap

siapakah perduli di antara kamu
membelenggu sehari penuh
apa guna pandang saling temu
bila derita di dada kita, tak saling tahu

siapakah perduli di antara kamu
derita bulan tua
dan gaji selalu ditunda
Mandala-Perjuangan, 27 April 2016





TAGAM
Oleh: Rayona Tampubolon
Omak, cemas apalagi buat hatimu kecut
kau termenung berpangku-tangan
rindumu belum bersambut
buatmu bungkam dalam angan-angan

lima anakmu memecah
jiwamu berkeping lima
tagammu kian membuncah
bila aku berkunjung ke huta

sekali waktu kuretas diammu
kautikam aku dengan tanya:
“andigan ahu marpahompu
nunga leleng ahu tarpaima”
Toba, 24 April 2016



Sumber: Analisa, Minggu, 26 Juni 2016



Minggu, 19 Juni 2016

PUISI

SURAT BUAT OMAK
Oleh: Rayona Tampubolon
Rindu kauselipkan di antara
karung beras, kau titipkan ke bus antarkota
kusambut dengan hangat

di dalamnya ada tiung yang kautanam
di belakang rumah
salak Sidempuan dan mangga Toba
kaubeli dari onan tombis Porsea
tak lupa, kaubalut juga naniarsik
dengan daun pisang

aku pasti pulang, Omak!
tapi jangan hujani tanya
tentang usia dan pertemuan dengan pariban.
Perantauan, 23 Februari 2016






PERJALANAN
Oleh: Rayona Tampubolon
Kita adalah legenda
lahir – mati, seperti pencuri
pergi ke entah
Medan Perjuangan, 08 Juli 2013




SUMBER: LANGGAM SUMUT POS, Minggu, 19 Juni 2016

Senin, 21 Maret 2016

PUISI

LAJU WAKTU
Oleh: Rayona Tampubolon

Bagaimana pun kerasnya
waktu kuputar
untuk sekedar mengingat kenangan
ia takkan kembali
waktu buru-buru pergi
tanpa suara, tanpa tanda
maka waktu hanya berpesan:

pergunakan dengan baik setiap kesempatan

Sumber: Waspada, Minggu, 20 Maret 2016

Minggu, 13 Maret 2016

ESAI BAHASA DAN SASTRA

PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH
MELALUI KARYA SASTRA
Oleh: Rayona Tampubolon

            Tahun 2011, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa masih tersisa 746 bahasa daerah di Indonesia. Diperkirakan, akhir abad ke-21, hanya 75 bahasa daerah yang akan bertahan. Apabila hanya 75 bahasa yang akan bertahan, bagaimanakah cara untuk mempertahankan bahasa daerah yang sudah mulai mengalami pergeseran?
            UNESCO per tanggal 17 November 1999 telah menetapkan bahwa setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Internasional Bahasa Ibu. Seturut dengan pendapat Saut Poltak Tambunan (SPT) di harian Kompas 28 Februari 2015, mengatakan bahwa di Indonesia gaung Hari Bahasa Ibu tak terdengar, padahal sebagian besar anak bangsa Indonesia mengenal bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Hal ini menjadi peringatan bagi setiap pemangku kepentingan budaya, sebab pelajaran bahasa daerah terpinggirkan dari kurikulum sekolah dan bahasa daerah sebagai bahasa ibu sudah digantikan dengan bahasa Indonesia berdialek kedaerahan. Anak-anak sejak dini telah dibiasakan berbahasa Indonesia dengan alasan, jika kelak merantau, bahasa yang diperlukan adalah bahasa Indonesia dan bahasa asing.
            Di Sumatera Utara, majalah atau media cetak yang menggunakan bahasa daerah belum ada. Di pulau Jawa, majalah berbahasa daerah sangat diminati dan dicintai oleh masyarakatnya. Bahkan di pulau Jawa, pemerintah daerah melalui peraturan daerah, mewajibkan instansi pemerintah menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi. Sekali dalam seminggu, bahasa Jawa pun sudah diharuskan digunakan oleh para guru dan murid sebagai bahasa di sekolah. Hal ini sebagai upaya untuk menanamkan kecintaan bahasa daerah terhadap generasi muda serta upaya untuk menyelamatkan bahasa Jawa dari pergeseran yang akan mengakibatkan kepunahan bahasa.


PUISI

PENCURI TAKDIR
: M. Aan Mansyur
Oleh: Rayona Tampubolon

Aku tahu, ada remaja abadi yang tidak kaukenal dalam dirimu
selalu, di lembaran sama, kaumenjelma puisi
belum dirampungkan pena. Kau tak mampu membedakan
antara menghadapi tulisan dan berdiri di tepian danau.
Kaujatuhkan diri ke tengah-tengah danau ketika belum
jadi bangkai atau hantu

katamu, kau dan seorang gadis di sekolahmu pernah saling
mencinta. Kau bagaikan orang bodoh di depan gadis itu. Kauingin
menjadi sihir dan gadis itu percaya pada keajaiban

kauingin sihir itu tampak lebih nyata dari tulisan atau
lebih hidup dari segala yang ada di dalam lembaran
tapi kau tak ingin cinta jadi tangga yang menghambat
dan merendahkan diri sendiri

di lembaran, kaukehilangan jejak gadis itu dan ingin
mengembalikan bekas luka di punggungnya jadi senyuman
kauterperangkap dalam bait puisi dan ingin jadi
pencuri takdir sendiri
Juni 2014




TEMBANG KESETIAAN
Oleh: Rayona Tampubolon

Telah kuhempaskan diri ke tempat tidur berdebu
menangis dengan kesedihan teramat sangat
terjun ke atas peti mati kekasih jiwa
dari lantai dua

kubiarkan tubuhku terluka
pasrah pada kematian
karena daya tarik cinta penuh hasrat
mempersatukan yang terpisah
           
mereka gemetar dan kagum
melihat kita terbaring selamanya
berselimut debu
Agustus 2014





CATATAN PERJALANAN
Oleh: Rayona Tampubolon


Kata perempuan itu kepada kekasihnya:
“aku rela membiarkan kakekku petapa yang berkelana
demi engkau, kekasih jiwa.
Sebab inilah yang dilakukan oleh cinta, si pembuat masalah”
Agustus 2014





Sumber: Analisa, Minggu, 21 Februari 2016

Selasa, 26 Januari 2016

PUISI

A N D U N G
oleh: Rayona Tampubolon
Omak, apakah aku telah durhaka
mengeluh dan mengerang membantumu
berladang ketika aku belia
sementara kau berjuang, bercucur keringat
di wajahmu legam, di wajahmu keriput
Omak, apakah aku telah durhaka
mencecap ilmu, mencecap pengalaman di rantau
enggan membanting tulang di terik mentari
di kampung yang kini sunyi
Omak, apakah aku telah menjadi durhaka
menikahi boru sileban, tak memenuhi pintamu dengan pariban
hidup di kota metropolitan.
sementara huta dan ruma sopomu, bagai hutan belantara
jauh dari kebisingan, jauh dari kehidupan
Sipallat, Narumonda, 14 September 2015


Z I A R A H
oleh: Rayona Tampubolon
kubantun setiap kenangan
di tiap persimpangan
segala telah terbelam
bertahun-tahun silam
masih dapat kurasa aroma naniura
kauracik dulu dengan unte dan andaliman
ketika aku pulang; meretas rindu padamu, rindu pada toba
wajahmu kini hanya terkenang dalam ingatan
ruma sopomu terban dan ripuk
tak cukup waktu tinggal karena hibuk
si parjalang kembali datang
menyambutku hanya ilalang
Porsea, Desember 2015


CERUK WAKTU
oleh: Rayona Tampubolon
jangan sebut aku kekasihmu
jika kaumereguk dari gelas masa lalu
sekadar mengungkai cerita
padahal kutahu kau menderita
jangan sebut aku kekasihmu
jika melangkah kau meragu
tersandung oleh ketakutan
dan getir hadapi masa depan
sebut aku kekasihmu
jika kaurampas aku dari sepi
dan tangisku yang sunyi
Perjuangan, 10 Januari 2016

SUMBER: Analisa, Minggu, 17 Januari 2016