PAYUNG DAN JAKET HUJAN NADIA
Oleh: Rayona Tampubolon
Hari ini Nadia mendapat hadiah dari
mama karena ia berhasil menjadi juara satu membaca puisi di sekolahnya. Namun,
keceriaan tidak nampak di wajahnya. Nadia murung ketika mengetahui hadiah
pemberian mama.
Nadia menghela nafas, “Ah, mama.
Hadiahnya kok payung dan jaket sih? Mama kan tahu, kalau Nadia suka menggambar
dan membaca buku dongeng. Harusnya mama beli aku buku gambar dan cat warna.”
Mama berusaha menenangkan Nadia dan
mendekatinya. “Loh, kok Nadia jadi pilih-memilih hadiah. Mama beli jaket dan
payung, karena akhir-akhir ini musim penghujan, sayang.”
Nadia tetap cemberut. Ia sama sekali
tidak menyukai hadiah pemberian mama. “Ma, kemarin kan papa sudah membelikan
payung untuk Nadia. Lagian, jaket Nadia juga masih banyak di lemari. Padahal,
uangnya udah bisa membeli beberapa buku dongeng.”
“Ya, sudah. Bulan depan, mama akan
membelikan buku dongeng keinginanmu, tapi payung dan jaket ini, Nadia simpan di
lemari ya. Nanti, Nadia pasti membutuhkannya.” Mama menasihati.
Nadia mulai merona wajahnya. Ia
memang pecinta buku dongeng dan suka menggambar. Di sekolah, ia juga merupakan
teman idaman karena kepintarannya. Pelajaran Matematika dan IPA sangat
disukainya. Sejak kelas tiga SD, Nadia memang sudah mendapat perhatian khusus
dari guru-gurunya, hingga SD kelas enam saat ini. Ia rajin membaca buku,
membawanya dari rumah. Jam istirahat benar-benar dipergunakannya dengan baik;
tidak seperti teman-temannya yang justru ke kantin. Kesenangan ini ia peroleh dari
mama, guru bahasa Indonesia di SMA favorit di Medan.
***
“Nadia, ke kantin yuk. Apa nggak bosan makan bontot
terus? Itu ada tukang bakso yang baru. Bakso pak Udin enak lho,” Sintia
membujuk.
Nadia tetap saja asyik membaca. Lalu
karena tidak tahan oleh suara Sintia yang seperti merengek, ia berkata,
“Sintia, kemarin aku membaca buku, katanya tak baik lho makan bakso banyak.
Cepat tua dan keriput. Aku tak mau.”
Sintia melotot dan bingung. “Enak
tahu, ya udah, kalau tidak mau, aku sendiri aja ya.”
Begitu lah. Nadia selalu pintar
menolak teman-teman yang menghabiskan waktunya di kantin. Bel berbunyi, tanda
istirahat telah usai, artinya tinggal dua les lagi. Nadia sangat menyukai les
terakhir. Mata pelajaran Matematika. Nadia begitu fokus dan asyik mengerjakan
soal. Oleh sebab terlalu fokus, tak terasa bel tanda pulang berbunyi. Namun,
petir menggelegar. Hujan turun begitu derasnya. Nadia tidak membawa payung dan
jaket hujannya. Ia sangat kedinginan.
Dari pukul satu siang hingga pukul
tiga sore hujan masih saja turun amat deras. Nadia kedinginan dan sangat lapar.
Tiba-tiba, Nadia teringat mama dan hadiah yang diberikan kemarin. Andai Nadia
mendengarkan nasihat mama dan selalu membawa payung dan jaket ke sekolah, Nadia
pasti sudah di rumah sekarang. Apalagi ia tahu, kalau hari ini mama memasak
rendang dan bubur kesukaannya. Nadia hanya menelan ludah dan mulai merasakan
sakit di perutnya.
Beberapa menit kemudian, hujan reda.
Teman-teman sekolahnya berhamburan pulang dengan senangnya. Nadia juga tidak
ketinggalan, namun wajahnya sedikit murung dan cemberut sampai ke rumah.
“Anak papa, kok lama sekali pulang?
Kenapa murung begitu, apa tidak membawa jaket dan payung tadi ke sekolah?”
tukas papa yang sedang membaca buku di ruang tamu.
“Pa, mama di mana? Nadia mau minta
maaf.”
Papa mendekati Nadia dan
mengantarnya ke meja makan. Mama sedang mempersiapkan makanan di meja makan. Seketika,
Nadia memeluk mama dari belakang dan menangis. “Ma, maafkan Nadia ya. Nadia
jahat tidak mendengarkan nasihat mama. Nadia janji tidak akan nakal lagi.”
Mama tersenyum dan mengelus rambut
Nadia. “Kenapa, sayang? Sudah, sudah, tidak apa-apa. Ayo, mari makan, Nadia
pasti sudah lapar kan? Cacingnya mama dengar bunyi, minta makan tuh.”
“Ah, mama. Papa dan mama belum
makan? Apa karena Nadia lama pulang?”
“Iya, sayang. Papa dan mama nungguin
Nadia. Kan sudah janji harus makan bersama. Ayo, papa sudah sangat lapar nih.”
Papa menambahkan.
Nadia sangat bersyukur punya papa
dan mama yang baik dan pecinta ilmu. Tentu, Nadia suka membaca dan tekun
belajar karena mendengar nasihat dari papa dan mama. Nadia berjanji tidak akan
nakal dan akan terus mendengar nasihat baik mama.
Usai makan, Nadia buru-buru ke
kamar. Ia membuka lemari dan melihat hadiah payung dan jaket pemberian mama.
Setelah ia buka, ternyata hadiahnya sangat menakjubkan. Payungnya ada gambar
bobo dan sangat cantik. Jaketnya juga berwarna pink dan ada lukisan menarik. Nadia terkesima dan menghela nafas.
Ia langsung menuju mama ke ruang tamu dan memeluk mama.
“Mama, Nadia minta maaf lagi ya.
Nadia sangat menyukai hadiah yang mama berikan. Nadia janji tidak akan
memilih-milih hadiah lagi. Nadia sayang sama mama.”
Mama hanya tersenyum dan memeluk
Nadia. Papa juga tersenyum melihat tingkah putri kesayangannya itu. (*)
24 April 2015 (11:50-12:29 WIB)
Sumber: Analisa Minggu, 4 Oktober 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar