Sabtu, 10 Oktober 2015

CERITA ANAK

PAYUNG DAN JAKET HUJAN NADIA

Oleh: Rayona Tampubolon





            Hari ini Nadia mendapat hadiah dari mama karena ia berhasil menjadi juara satu membaca puisi di sekolahnya. Namun, keceriaan tidak nampak di wajahnya. Nadia murung ketika mengetahui hadiah pemberian mama.
            Nadia menghela nafas, “Ah, mama. Hadiahnya kok payung dan jaket sih? Mama kan tahu, kalau Nadia suka menggambar dan membaca buku dongeng. Harusnya mama beli aku buku gambar dan cat warna.”
            Mama berusaha menenangkan Nadia dan mendekatinya. “Loh, kok Nadia jadi pilih-memilih hadiah. Mama beli jaket dan payung, karena akhir-akhir ini musim penghujan, sayang.”
            Nadia tetap cemberut. Ia sama sekali tidak menyukai hadiah pemberian mama. “Ma, kemarin kan papa sudah membelikan payung untuk Nadia. Lagian, jaket Nadia juga masih banyak di lemari. Padahal, uangnya udah bisa membeli beberapa buku dongeng.”
            “Ya, sudah. Bulan depan, mama akan membelikan buku dongeng keinginanmu, tapi payung dan jaket ini, Nadia simpan di lemari ya. Nanti, Nadia pasti membutuhkannya.” Mama menasihati.

            Nadia mulai merona wajahnya. Ia memang pecinta buku dongeng dan suka menggambar. Di sekolah, ia juga merupakan teman idaman karena kepintarannya. Pelajaran Matematika dan IPA sangat disukainya. Sejak kelas tiga SD, Nadia memang sudah mendapat perhatian khusus dari guru-gurunya, hingga SD kelas enam saat ini. Ia rajin membaca buku, membawanya dari rumah. Jam istirahat benar-benar dipergunakannya dengan baik; tidak seperti teman-temannya yang justru ke kantin. Kesenangan ini ia peroleh dari mama, guru bahasa Indonesia di SMA favorit di Medan.
***
            “Nadia,  ke kantin yuk. Apa nggak bosan makan bontot terus? Itu ada tukang bakso yang baru. Bakso pak Udin enak lho,” Sintia membujuk.
            Nadia tetap saja asyik membaca. Lalu karena tidak tahan oleh suara Sintia yang seperti merengek, ia berkata, “Sintia, kemarin aku membaca buku, katanya tak baik lho makan bakso banyak. Cepat tua dan keriput. Aku tak mau.”
            Sintia melotot dan bingung. “Enak tahu, ya udah, kalau tidak mau, aku sendiri aja ya.”
            Begitu lah. Nadia selalu pintar menolak teman-teman yang menghabiskan waktunya di kantin. Bel berbunyi, tanda istirahat telah usai, artinya tinggal dua les lagi. Nadia sangat menyukai les terakhir. Mata pelajaran Matematika. Nadia begitu fokus dan asyik mengerjakan soal. Oleh sebab terlalu fokus, tak terasa bel tanda pulang berbunyi. Namun, petir menggelegar. Hujan turun begitu derasnya. Nadia tidak membawa payung dan jaket hujannya. Ia sangat kedinginan.
            Dari pukul satu siang hingga pukul tiga sore hujan masih saja turun amat deras. Nadia kedinginan dan sangat lapar. Tiba-tiba, Nadia teringat mama dan hadiah yang diberikan kemarin. Andai Nadia mendengarkan nasihat mama dan selalu membawa payung dan jaket ke sekolah, Nadia pasti sudah di rumah sekarang. Apalagi ia tahu, kalau hari ini mama memasak rendang dan bubur kesukaannya. Nadia hanya menelan ludah dan mulai merasakan sakit di perutnya.
            Beberapa menit kemudian, hujan reda. Teman-teman sekolahnya berhamburan pulang dengan senangnya. Nadia juga tidak ketinggalan, namun wajahnya sedikit murung dan cemberut sampai ke rumah.
            “Anak papa, kok lama sekali pulang? Kenapa murung begitu, apa tidak membawa jaket dan payung tadi ke sekolah?” tukas papa yang sedang membaca buku di ruang tamu.
            “Pa, mama di mana? Nadia mau minta maaf.”
            Papa mendekati Nadia dan mengantarnya ke meja makan. Mama sedang mempersiapkan makanan di meja makan. Seketika, Nadia memeluk mama dari belakang dan menangis. “Ma, maafkan Nadia ya. Nadia jahat tidak mendengarkan nasihat mama. Nadia janji tidak akan nakal lagi.”
            Mama tersenyum dan mengelus rambut Nadia. “Kenapa, sayang? Sudah, sudah, tidak apa-apa. Ayo, mari makan, Nadia pasti sudah lapar kan? Cacingnya mama dengar bunyi, minta makan tuh.”
            “Ah, mama. Papa dan mama belum makan? Apa karena Nadia lama pulang?”
            “Iya, sayang. Papa dan mama nungguin Nadia. Kan sudah janji harus makan bersama. Ayo, papa sudah sangat lapar nih.” Papa menambahkan.
            Nadia sangat bersyukur punya papa dan mama yang baik dan pecinta ilmu. Tentu, Nadia suka membaca dan tekun belajar karena mendengar nasihat dari papa dan mama. Nadia berjanji tidak akan nakal dan akan terus mendengar nasihat baik mama.
            Usai makan, Nadia buru-buru ke kamar. Ia membuka lemari dan melihat hadiah payung dan jaket pemberian mama. Setelah ia buka, ternyata hadiahnya sangat menakjubkan. Payungnya ada gambar bobo dan sangat cantik. Jaketnya juga berwarna pink dan ada lukisan menarik. Nadia terkesima dan menghela nafas. Ia langsung menuju mama ke ruang tamu dan memeluk mama.
            “Mama, Nadia minta maaf lagi ya. Nadia sangat menyukai hadiah yang mama berikan. Nadia janji tidak akan memilih-milih hadiah lagi. Nadia sayang sama mama.”
            Mama hanya tersenyum dan memeluk Nadia. Papa juga tersenyum melihat tingkah putri kesayangannya itu. (*)


24 April 2015 (11:50-12:29 WIB)
Sumber: Analisa Minggu, 4 Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar