PESAN
SINGKAT
(Oleh: Rayona Tampubolon)
(Oleh: Rayona Tampubolon)
Lelaki berhidung mancung itu dengan
sigapnya terlintas dari hadapanku. Aku sungguh tak bisa menyangkal bahwa dialah
yang dari kemarin menghantuiku hingga aku tidak bisa menutup pelupuk mata.
Bayangnya begitu memukau bak sinar kemilauan. Sesekali aku memandangnya dari
kejauhan berharap jejaknya tak sempat hilang.
“Selamat
pagi semua.”
Langkahku semakin cepat sejak
telingaku mendengar sapaan itu. Tak
peduli dengan terik sang mentari yang membakar permukaan kulitku. Yang aku
inginkan hanya mengikuti jejaknya yang sudah tak sabar lagi ingin aku dekap.
“Tunggu
aku.”
Dengan segera dia menghentikan
langkah dan mengarahkan kedua bola matanya terhadapku. Aku berhenti! Tak bisa
ku pungkiri kata yang super singkat itu bisa menghentikan kakinya yang dari
tadi tak kunjung berhenti.
“Hei!Cepat!”
Dengan sigap aku melangkah dan
tertunduk malu. Entah mengapa aku kaku. Namun tetap saja aku tertunduk malu.
Tiba-tiba saja seorang wanita cantik lewat dari sampingku yang membuat
langkahku terhenti. Aku melihat kearahnya. Ternyata dia menunggu wanita itu bukan
aku! Wajahku membeku! Sayangnya, segera dicairkan oleh teriknya sang mentari.
“Ngapain berhenti di depanku?”
Sumber: SIB 20 Mei 2012
Sumber: SIB 20 Mei 2012
Aku berlari! Hingga aku meninggalkan butiran air mataku tepat dimana langkahku terhenti karena lelaki itu. Tatapan matanya begitu hangat ketika melihat kearahku hingga membuatku nyaman! Tatapan itu! Iya, tatapan itu tidak asing lagi bagiku! Rasanya aku pernah mengenalnya! Tapi, dimana? Sehari saja aku tidak pernah menghabiskan waktu bersamanya. Jangankan sehari! Semenit, bahkan sedetik pun bayangnya sudah menghilang dari jangkauanku.
Kembali aku mencari lelaki itu dan
seakan tidak mau lagi kehilangan sosoknya yang mengharuskanku hanya menggapai
bayangnya saja. Sesekali aku mengarahkan kedua bola mataku ke belakang berharap
bayangan itu menjelma seorang lelaki yang begitu memikat hatiku.
“Sekali saja kamu menyapaku dan
menghapuskan kerinduan ini! Sungguh aku pernah mengenalmu! Sesungguhnya aku
tidak ingin kehilangan jejakmu sedetik pun! Datanglah, aku menunggumu dengan
sejuta keinginan.”
Hingga jarum jam menunjukkan angka 6
tekatku masih bulat. Tidak lupa aku mengarahkan kedua bola mataku. Aku lelah!
Sosoknya selalu menyiksaku hingga membuatku lemah tak berdaya.
“Maaf! Kantin sudah tutup! Kampus
juga sudah sunyi! Sedang menunggu apa?”
Aku tersentak. Dengan rasa kecewa ku
meninggalkan angan yang mungkin terlampau besar ingin bertemu dengannya. Di
perjalanan, aku tiba-tiba saja bingung dengan pria itu! Dia selalu muncul saat
mentari menampakkan dirinya. Apakah dia akan muncul saat mentari terlelap? Aku
akan menunggu!
Ketidak sabaranku makin memuncak
untuk menanyakan siapa dirinya! Aku duduk di tengah kabutnya malam. Entah
berapa lama lagi aku disibukkan oleh tanya, tapi aku tetap bertahan karena aku
penasaran akan lelaki itu. Hembusan angin menampar dedaunan hijau begitu jelas
dimataku. Sangat disesalkan jika sosoknya tidak muncul hingga aku merelakan
diriku disirami rintiknya hujan.
“Aku merindukanmu.” Sekejap kata itu
bersenandung dalam hatiku. Benar! Dia mirip mantan kekasihku yang telah lenyap
dihempas sang ombak 2 tahun yang lalu ketika kami menikmati liburan di pantai.
Tentu saja aku penasaran akan lelaki itu! Dari hidung, tatapannya yang hangat,
dan badannya yang tinggi tegap.
Tapi tidak mungkin! Dia sudah
meninggal! Dan sangat membingungkan jika dia bersama wanita lain! Siapa wanita
itu? Ah, dia bukan Harris mantanku! Tapi mereka memang begitu mirip! Apa aku
hanya mimpi? Mungkin ini hanya sebatas kerinduanku akan dirinya yang membuatku
menganggap sosok lelaki itu dia! Aku harus pulang dan mengakhiri sandiwara ini.
Sekejap langkahku terhenti!
Lagi-lagi aku melihat lelaki itu, dan kali ini dia mengenakan kaos kotak dan
celana jeans. Aku tercengang! Perlahan ku tutup kedua mata dan segera
membukanya karena ini pasti hanya khayalanku saja! Tetap saja sosoknya tidak
bisa hilang dari mataku yang berbinar-binar! Dengan sigap aku melayangkan
tanganku kea rah wajahku yang halus. Sakit! Aku menjerit kesakitan! Tetap saja
sosok itu ada dalam bola mataku.
Kali ini aku melihat lelaki itu
duduk dengan tenang di halte depan kampus. Aku sungguh tidak perduli hembusan
angin yang mencoba menenggelamkanku. Langkah demi langkah aku mendekatinya!
Semakin dekat hingga jarak satu langkah lagi mengena ke wajahnya. Dia
tertunduk. Aku semakin penasaran.
“Hello!”
Ucapku spontan, namun itu pun tak mampu membuat dia melihat ke arahku. Tentu
saja aku makin penasaran. Semakin aku mendekat, aku semakin nyaman! Bahkan
kehangatan yang aku rasakan mampu mengalahkan dinginnya malam.
Aku seakan diingatkan oleh waktu
dengan kejadian 2 tahun yang lalu. Kebersamaan yang begitu hangat sangat aku
rindukan dengan harris. Apa maksud ini semua? Siapa lelaki ini? Tiba-tiba saja
wajah harris terlintas dikepalaku! Tentu saja aku kaget luar biasa, karena
semenjak kepergiannya dia tidak pernah menghampiriku.
“Kamu siapa? Mengapa kamu selalu
muncul?” Bentakku yang berharap kali ini dia mau memalingkan wajahnya
terhadapku.
Tiba-tiba belaian tangannya
membuatku membeku! Tidak asing lagi dia pasti harris! Belaian tangannya kali
ini begitu dingin yang semakin membuatku penasaran. Aku langsung menundukkan
kepalaku dan mengarahkan kedua bola mataku terhadapnya! Benar! Dia harris!
“Harris!” Ucapku kaget. Dia
tersenyum kepadaku. Kerinduanku selama ini terbalaskan. Tapi apa maksud dia
mendatangiku belakangan ini?
“Harris! Mengapa kamu mendatangiku?
Kamu membuat hari-hariku suram selama ini! Mengapa kamu tidak pernah hadir
dalam mimpiku? Selama 2 tahun kepergianmu, sekalipun kamu tidak pernah
mendatangiku dalam mimpi! Tapi mengapa harus seperti ini caramu mendatangiku?”
“Aku juga merindukanmu! Aku begitu
tersiksa karena kerinduanmu setiap hari yang membuatku tidak tenang! Aku juga
sulit mendatangimu dalam mimpi! Sesungguhnya aku ingin mendatangimu, tapi
selalu ku coba tetap saja aku tak mampu! Berjanjilah untuk tidak menangisiku
lagi! Aku akan setia menunggumu! Ingat pesanku ini, jangan pernah meneteskan
air matamu lagi padaku, agar aku tenang.”
“Tapi mengapa? Apa yang harus aku
lakukan? Tidak bisa ku pungkiri apa maksud kata-katamu ini! Mengapa?” Tanyaku
telah menghilang di hantam kuatnya hembusan angin. Sosoknya pun menghilang dari
hadapanku. Aku terjatuh lemah!
Aku melihat harris menghilang begitu
saja dari hadapanku! Wanita itu? Mengapa dia bersama harris? Apa wanita itu
adik harris yang meninggal akibat kecelakaan 5 tahun lalu? Tiba-tiba semua
gelap! Sinar rembulan pun tiba-tiba lenyap seiring lemahnya tubuhku yang tak
sanggup kehilangan sosoknya yang sangat aku rindukan.
Kadang
ini tidak adil bagiku
Aku
ingin kamu segera menjemputku
Saat
aku membuka mata, jejakmu sirna
Datanglah
dalam mimpiku
Kadang aku ingin menyusulmu
Agar
aku segera meninggalkan kejamnya dunia
Segeralah, segera menjemputku
Kadang
aku ingin menyusulmu
Tak
sanggup aku melawan dinginnya malam tanpa belaianmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar