Sabtu, 27 Oktober 2012

pesan singkat


                                                PESAN SINGKAT
                                     (Oleh: Rayona Tampubolon)
            Lelaki berhidung mancung itu dengan sigapnya terlintas dari hadapanku. Aku sungguh tak bisa menyangkal bahwa dialah yang dari kemarin menghantuiku hingga aku tidak bisa menutup pelupuk mata. Bayangnya begitu memukau bak sinar kemilauan. Sesekali aku memandangnya dari kejauhan berharap jejaknya tak sempat hilang.
            Selamat pagi semua.”
            Langkahku semakin cepat sejak telingaku mendengar sapaan  itu. Tak peduli dengan terik sang mentari yang membakar permukaan kulitku. Yang aku inginkan hanya mengikuti jejaknya yang sudah tak sabar lagi ingin aku dekap.
            Tunggu aku.”
            Dengan segera dia menghentikan langkah dan mengarahkan kedua bola matanya terhadapku. Aku berhenti! Tak bisa ku pungkiri kata yang super singkat itu bisa menghentikan kakinya yang dari tadi tak kunjung berhenti.
            Hei!Cepat!
            Dengan sigap aku melangkah dan tertunduk malu. Entah mengapa aku kaku. Namun tetap saja aku tertunduk malu. Tiba-tiba saja seorang wanita cantik lewat dari sampingku yang membuat langkahku terhenti. Aku melihat kearahnya. Ternyata dia menunggu wanita itu bukan aku! Wajahku membeku! Sayangnya, segera dicairkan oleh teriknya sang mentari.
            “Ngapain berhenti di depanku?”
Sumber: SIB 20 Mei 2012
           
Aku berlari! Hingga aku meninggalkan butiran air mataku tepat dimana langkahku terhenti karena lelaki itu. Tatapan matanya begitu hangat ketika melihat kearahku hingga membuatku nyaman! Tatapan itu! Iya, tatapan itu tidak asing lagi bagiku! Rasanya aku pernah mengenalnya! Tapi, dimana? Sehari saja aku tidak pernah menghabiskan waktu bersamanya. Jangankan sehari! Semenit, bahkan sedetik pun bayangnya sudah menghilang dari jangkauanku.
            Kembali aku mencari lelaki itu dan seakan tidak mau lagi kehilangan sosoknya yang mengharuskanku hanya menggapai bayangnya saja. Sesekali aku mengarahkan kedua bola mataku ke belakang berharap bayangan itu menjelma seorang lelaki yang begitu memikat hatiku.
            “Sekali saja kamu menyapaku dan menghapuskan kerinduan ini! Sungguh aku pernah mengenalmu! Sesungguhnya aku tidak ingin kehilangan jejakmu sedetik pun! Datanglah, aku menunggumu dengan sejuta keinginan.”
            Hingga jarum jam menunjukkan angka 6 tekatku masih bulat. Tidak lupa aku mengarahkan kedua bola mataku. Aku lelah! Sosoknya selalu menyiksaku hingga membuatku lemah tak berdaya.
            “Maaf! Kantin sudah tutup! Kampus juga sudah sunyi! Sedang menunggu apa?”
            Aku tersentak. Dengan rasa kecewa ku meninggalkan angan yang mungkin terlampau besar ingin bertemu dengannya. Di perjalanan, aku tiba-tiba saja bingung dengan pria itu! Dia selalu muncul saat mentari menampakkan dirinya. Apakah dia akan muncul saat mentari terlelap? Aku akan menunggu!
            Ketidak sabaranku makin memuncak untuk menanyakan siapa dirinya! Aku duduk di tengah kabutnya malam. Entah berapa lama lagi aku disibukkan oleh tanya, tapi aku tetap bertahan karena aku penasaran akan lelaki itu. Hembusan angin menampar dedaunan hijau begitu jelas dimataku. Sangat disesalkan jika sosoknya tidak muncul hingga aku merelakan diriku disirami rintiknya hujan.
            “Aku merindukanmu.” Sekejap kata itu bersenandung dalam hatiku. Benar! Dia mirip mantan kekasihku yang telah lenyap dihempas sang ombak 2 tahun yang lalu ketika kami menikmati liburan di pantai. Tentu saja aku penasaran akan lelaki itu! Dari hidung, tatapannya yang hangat, dan badannya yang tinggi tegap.
            Tapi tidak mungkin! Dia sudah meninggal! Dan sangat membingungkan jika dia bersama wanita lain! Siapa wanita itu? Ah, dia bukan Harris mantanku! Tapi mereka memang begitu mirip! Apa aku hanya mimpi? Mungkin ini hanya sebatas kerinduanku akan dirinya yang membuatku menganggap sosok lelaki itu dia! Aku harus pulang dan mengakhiri sandiwara ini.
            Sekejap langkahku terhenti! Lagi-lagi aku melihat lelaki itu, dan kali ini dia mengenakan kaos kotak dan celana jeans. Aku tercengang! Perlahan ku tutup kedua mata dan segera membukanya karena ini pasti hanya khayalanku saja! Tetap saja sosoknya tidak bisa hilang dari mataku yang berbinar-binar! Dengan sigap aku melayangkan tanganku kea rah wajahku yang halus. Sakit! Aku menjerit kesakitan! Tetap saja sosok itu ada dalam bola mataku.
            Kali ini aku melihat lelaki itu duduk dengan tenang di halte depan kampus. Aku sungguh tidak perduli hembusan angin yang mencoba menenggelamkanku. Langkah demi langkah aku mendekatinya! Semakin dekat hingga jarak satu langkah lagi mengena ke wajahnya. Dia tertunduk. Aku semakin penasaran.
            Hello!” Ucapku spontan, namun itu pun tak mampu membuat dia melihat ke arahku. Tentu saja aku makin penasaran. Semakin aku mendekat, aku semakin nyaman! Bahkan kehangatan yang aku rasakan mampu mengalahkan dinginnya malam.
            Aku seakan diingatkan oleh waktu dengan kejadian 2 tahun yang lalu. Kebersamaan yang begitu hangat sangat aku rindukan dengan harris. Apa maksud ini semua? Siapa lelaki ini? Tiba-tiba saja wajah harris terlintas dikepalaku! Tentu saja aku kaget luar biasa, karena semenjak kepergiannya dia tidak pernah menghampiriku.
            “Kamu siapa? Mengapa kamu selalu muncul?” Bentakku yang berharap kali ini dia mau memalingkan wajahnya terhadapku.
            Tiba-tiba belaian tangannya membuatku membeku! Tidak asing lagi dia pasti harris! Belaian tangannya kali ini begitu dingin yang semakin membuatku penasaran. Aku langsung menundukkan kepalaku dan mengarahkan kedua bola mataku terhadapnya! Benar! Dia harris!
            “Harris!” Ucapku kaget. Dia tersenyum kepadaku. Kerinduanku selama ini terbalaskan. Tapi apa maksud dia mendatangiku belakangan ini?
            “Harris! Mengapa kamu mendatangiku? Kamu membuat hari-hariku suram selama ini! Mengapa kamu tidak pernah hadir dalam mimpiku? Selama 2 tahun kepergianmu, sekalipun kamu tidak pernah mendatangiku dalam mimpi! Tapi mengapa harus seperti ini caramu mendatangiku?”
            “Aku juga merindukanmu! Aku begitu tersiksa karena kerinduanmu setiap hari yang membuatku tidak tenang! Aku juga sulit mendatangimu dalam mimpi! Sesungguhnya aku ingin mendatangimu, tapi selalu ku coba tetap saja aku tak mampu! Berjanjilah untuk tidak menangisiku lagi! Aku akan setia menunggumu! Ingat pesanku ini, jangan pernah meneteskan air matamu lagi padaku, agar aku tenang.”
            “Tapi mengapa? Apa yang harus aku lakukan? Tidak bisa ku pungkiri apa maksud kata-katamu ini! Mengapa?” Tanyaku telah menghilang di hantam kuatnya hembusan angin. Sosoknya pun menghilang dari hadapanku. Aku terjatuh lemah!
            Aku melihat harris menghilang begitu saja dari hadapanku! Wanita itu? Mengapa dia bersama harris? Apa wanita itu adik harris yang meninggal akibat kecelakaan 5 tahun lalu? Tiba-tiba semua gelap! Sinar rembulan pun tiba-tiba lenyap seiring lemahnya tubuhku yang tak sanggup kehilangan sosoknya yang sangat aku rindukan.
            Kadang ini tidak adil bagiku
            Aku ingin kamu segera menjemputku
            Saat aku membuka mata, jejakmu sirna
            Datanglah dalam mimpiku
                        Kadang aku ingin menyusulmu
                        Agar aku segera meninggalkan kejamnya dunia
                        Segeralah, segera menjemputku
                        Kadang aku ingin menyusulmu
            Tak sanggup aku melawan dinginnya malam tanpa belaianmu.



                                                          

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar